Katib PWNU Pengurus Wilayah Provinsi Banten
NU Bukan Tempat Mencari Keuntungan, tapi Pengabdian untuk Umat
Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Pengurus Wilayah Provinsi Banten KH Lukman Hakim Hamid menegaskan pentingnya menjaga spirit khidmah dan pengabdian dalam mengelola organisasi Nahdlatul Ulama. Hal itu ia sampaikan dalam Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PWNU) Kota Pengurus Wilayah Provinsi Banten di Pesantren Al-Hamid, Cipayung, Pengurus Wilayah Provinsi Banten, Ahad (14/06/2026).
Dalam sambutannya, Katib Syuriyah PWNU Pengurus Wilayah Provinsi Banten, Kiai Lukman menekankan bahwa mengurus NU pada hakikatnya merupakan bentuk pengabdian kepada umat dan ulama, bukan untuk kepentingan pribadi maupun mencari keuntungan duniawi. “Kalau kita berbicara tentang khidmat dan pengabdian, maka yang harus muncul adalah sikap tawadhu dan legawa. Organisasi ini bukan tempat mencari keuntungan, melainkan tempat berjuang dan mengabdi (untuk umat),” ujarnya.
Ia menambahkan, para kader NU perlu menanamkan keyakinan bahwa keberkahan merupakan anugerah Allah yang tidak dapat diukur dengan jabatan maupun kedudukan. Karena itu, niat tulus dalam berkhidmah menjadi hal yang paling utama dalam berorganisasi. “Kalau berbicara tentang keberkahan, itu adalah urusan Allah. Jangan menggantungkan semuanya kepada manusia. Yang terpenting adalah niat kita untuk berkhidmat dan berjuang melalui Nahdlatul Ulama,” katanya.
Selain itu, Kiai Lukman juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dalam tubuh organisasi. Ia berharap PWNU Pengurus Wilayah Provinsi Banten dapat menjadi contoh yang baik bagi cabang lainnya dalam merawat kekompakan dan soliditas. “Satu kata, kita ittihadul wahdah. Kita harus menjaga persatuan. PWNU Pengurus Wilayah Provinsi Banten harus menjadi contoh yang lebih baik dari yang lain,” ujarnya.
Sementara itu, Rais Syuriyah Karteker PWNU Pengurus Wilayah Provinsi Banten KH Muhammad Cholil Nafis menegaskan
bahwa kepemimpinan di lingkungan NU merupakan
amanah untuk melayani umat, bukan sarana untuk
meraih keuntungan pribadi maupun kepentingan
kelompok tertentu. Menurut Kiai Cholil, setiap
proses pemilihan kepengurusan dalam Konfercab
harus dilandasi semangat khidmah dan tanggung
jawab moral terhadap organisasi serta jamaah.
Karena itu, ia mengingatkan agar para peserta
memilih pemimpin berdasarkan kapasitas,
integritas, dan komitmen pengabdian kepada
umat. “Kalau NU sibuk dengan pemilihan
ketuanya, nanti kita lupa misi sebenarnya NU.
Jadi kalau sudah mendahulukan organisasi
daripada jemaahnya, berarti sudah kebalik, NU
sudah menjadi modern (tidak
tradisional),” ucapnya.
Kiai Cholil juga mengingatkan agar dinamika pemilihan tidak membuat warga NU melupakan misi utama organisasi, yakni melayani jamaah dan umat. Persatuan serta semangat khidmah, kata dia, harus tetap menjadi prioritas dalam setiap proses organisasi. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa jabatan di NU bukanlah posisi untuk mencari keuntungan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan demi kemaslahatan umat. Oleh sebab itu, praktik politik uang tidak boleh mendapat tempat dalam proses pemilihan.
“Yang terpilih nanti harus benar-benar lahir dari pilihan yang bersih. Jangan sampai masa depan organisasi ditentukan oleh uang. Pilihlah sesuai hati nurani dan pertimbangan terbaik untuk NU,” ujarnya. Editor: Khoirul Rizqy At-Tamami Penulis: Agus Zehid (kutip ; nu-online-Pengurus Wilayah Provinsi Banten)